Nur Afidah
Dunia tak berhenti berputar saat pandemi melanda
Diposting pada tanggal: 31-10-2020


2 Likes
Ini cerita tentang Bubu. Ibu dari 3 orang anak yang sudah 2 tahun resign karena ingin lebih dekat dengan anak. Bubu tak ingin melulu bergantung pada pemasukan dari suami, hingga saat resignation letter nya mendapat lampu hijau dari kantor, Bubu memutuskan untuk menghidupkan kembali passion nya dalam bisnis salon & kecantikan. Bermodalkan dana jamsostek hasil kerja nya selama 10 tahun ditambah dengan bantuan dari Bank, Salon & Spa milik Bubu berhasil mendapat perhatian pasar. Tahun pertamanya ramai dan suskes mendapatkan banyak pelanggan loyal. Banyak yang senang "nyalon" ke tempat Bub karena tempat nya yang instragrammable. menginjak tahun kedua, seorang teman lama yang tidak sengaja bertemu saat acara sekolah anak kedua Bubu mengajak Bubu untuk bekerjasama membuka cafe. Bubu tertarik, karena kebetulan ruko sebelah salon Bubu kosong dan disewakan. Tak sampai 6 bulan sejak pertemuan itu, cafe Bubu dan teman nya sudah mulai buka. Pelanggan salon Bubu pun senang seklai karena jadi punya tempat "nongkrong" setelah "nyalon".
Rasanya saat itu dunia berada dalam genggaman Bubu. Indah dan mudah. Hingga suatu saat teman Bubu yang merupakan rekan bisnisnya menelopon dengan panik dan mengatakan bahwa suaminya dirawat di RS dan dinyatakan terkena covid. Bubu tidak menyangka bahwa pandemi begitu dekat menerjang hidup Bubu yang sedang berjalan indah. Bubu berusaha menguatkan dan memberikan bantuan sebisa Bubu, dan membebaskan teman Bubu dalam urusan bisnis untuk sementara. Bubu juga sedang kebingungan. Sudah 3 minggu sejak PSBB dilakukan, salon dan cafe Bubu tutup sama sekali. Bubu tidak tahu bagaimana cara agara karyawan salon dan cafe bisa tetap "makan". Bubu sudah menghabiskan dana darurat keluarga untuk menutupi usaha Bubu yang tutup sementara. Bubu sadar, sejak awal Bubu memang kurang konsisten dalam memisahkan keuangan keluarga dan keuangan bisnis Bubu. Bubu hanya ingin bertahan, tidak ingin merumahkan semua karyawannya, tapi apalah arti salon dan cafe tanpa pelanggan. Suami Bubu yang bekerja di bidang properti masih beruntung masih tetap dipertahankan perusahaan meski harus merelakan 30% dari gaji dipotong dengan alasan kondisi keuangan perusahaan yang tidak stabil akibat pandemi.
Sampai hari raya Idul Fitri tiba, Bubu belum berani membuka salon dan cafe. Saat itu dimana Bubu sudah tidak tahu lagi bagaimana harus menutupi biaya-biaya kedua bisnisnya dengan hanya mengandalkan gaji suaminya yang tidak utuh. Pinjaman Bubu dari Bank pun tidak mendapatkan keringanan, Bubu tetap ditagih seperti biasa. Saat semua penyusuaian mencapai titik puncaknya, dimana Bubu harus terbiasa dnegan anak-anak yang sekolah di rumah, di tambah suami Bubu yang juga WFH, yang entah mengapa Bubu merasa pengeluaran rumah tangga menjadi jauh lebih banyak dan tidak ada habisnya, ditambah lagi bisnis Bubu yang sudah diujung tanduk, Bubu akhirnya menyerah. Bubu tidak sanggup lagi menalangi semua biaya-biaya bisnis nya dengan dana rumah tangga yang harus Bubu kelola untuk keluarga. Bubu memutuskan untuk menutup cafe, karena suami dari partner Bubu harus berpulang karena covid, dan teman Bubu amat terpukul hingga Bubu tidak tahu sampai kapan mereka bisa bertemu dan menbahas keberlanjutan bisnis. Bubu menghubungi satu persatu karyawan salon nya, menanyakan bagaimana harapan mereka untuk kondisi salon saat ini. Hampir semua dari karyawan Bubu menjadi reseller ataupun berjualan cemilan dan yang lainnya untuk menyambung hidup, Bubu merasa ada sesak dalam dada saat melihat status WA karyawannya yang menjajakan berbagai macam kebutuhan untuk menyambung hidup. Bubu bertekad untuk tidk menyerah dan tetap ingin salon nya dapat menghidupi karyawan nya. Bubu mulai mengumpulkan dana dari pelanggan-pelanggan loyalnya, dengan menjual "voucher pay now, enjoy later", dan juga secara terbuka memberi kesempatan kepada pelanggan loyal yang ingin membantu para karyawan/terapis. Tidak mudah memang, karena banyak dari pelanggan loyal Bubu juga yang sedikit banyak terdampak oleh pandemi ini. Bubu merasa dunia tak lagi berputar untuk nya, Bubu ingin pandemi segera berlalu dan ingin semua kembai normal. Semkain banyak Bubu berharap dan semkain lama Bubu terpuruk, semakin berguguran rasanya semua yang Bubu bangun selama ini. Sampai pada akhirnya secara perlahan Bubu mendapatkan kekuatan untuk bangkit dan memberanikan diri untuk mulai membuka kembali salon Bubu dengan banyaknya penyesuaian yang harus Bubu lakukan. Bubu kampanyekan kembali pogram-program untuk mengembalikan loyal customer Bubu. Bubu siapkan program yang sudah dimodifikasi sesuai dengan protokol kesehatan. Perlahan, pelanggan-pelanggan Bubu mulai terlihat kembali. Kali ini Bubu sudah janji pada diri sendiri untuk harus betul-betul disipilin dalam memisahkan uang bisnis dan uang keluarga. Dalam mengelola keuangan keluarga pun Bubu menjadi lebih dispilin dalam mencatat dan memisahkan rekening untuk setiap budget agar lebih mempermudah mengetahui "uang sisa" yangboleh Bubu gunakan diluar kebutuhan utama. Bubu sadar betul, seburuk apapun pandemi ini menerpa kita, tetap ada pelajaran di dalamnya. Bubu ingin terus belajar dan menjadi lebih baik lagi. Karena dunia tak berhenti berputar saat pandemi melanda :)

Digital Financing